Oleh : Rhea
Maraknya kemajuan teknologi selular saat ini sangat pesat. Perhatian tidak hanya datang dari pihak professional namun juga dari anak-anak usia sekolah dasar. Tidak sedikit bisa ditemukan siswa sekolah dasar yang telah mengantongi ponsel canggih dengan fasilitas teknologi lengkap dan harga yang mahal.
Banyak alasan mengapa anak-anak sekolah dasar yang belum memerlukan semua aplikasi canggih itu mengantongi ponsel-ponsel canggih. Salah satu alasan terbesar hanyalah keinginan untuk memiliki tanpa mengetahui fungsi masing-masing aplikasi tersebut. Alasan lain, ada juga yang karena muatan memori yang besar sehingga mereka bisa menyimpan banyak lagu, gambar, dan games untuk dinikmati, namun ada pula yang hanya untuk sekedar bergaya memenuhi gengsi saja.
Memang kemajuan pesat teknologi ponsel sangat dibutuhkan oleh kalangan tertentu, namun kebutuhan primer ini belum mencakup pada usia sekolah dasar. Akhirnya penggunaan ponsel canggih yang sebenarnya dapat sangat membantu dalam komunikasi teknologi informasi digunakan untuk hal-hal yang merusak anak bangsa, seperti peredaran foto dan video porno, pembajakan lagu-lagu, dan juga download permainan yang akan mengganggu konsentrasi belajar anak-anak.
Akhirnya, meskipun mereka dilarang membawa ponsel ke sekolah oleh orangtua mereka, namun pikiran mereka saat berada di sekolah tidak bisa terkonsentrasi pada pelajaran, namun terusik pada ponsel yang mereka tinggal di rumah. Sedangkan anak-anak yang diizinkan untuk membawa ponsel ke sekolah, di kelas mereka malah diam-diam mengirim pesan bahkan bermain permainan pada ponsel tanpa sepengetahuan guru mereka.
Permainan multimedia bisa memberikan efek yang bagus dalam hal kreatifitas dan cara berifikir, namun hal ini dapat berlaku jika dilakukan pada waktu-waktu yang dibatasi dan juga pada usia tertentu pula. Bila hal ini dilakukan kepada anak usia sekolah dasar yang belum bisa membagi konsentrasi, akhirnya pikiran mereka hanya terfokus kepada permainan saja dan pelajaran disekolah pun terbengkalai.
Banyak orangtua yang memiliki penghasilan lebih merasa tidak masalah membelikan anak-anaknya ponsel canggih yang mahal. Selalu memenuhi keinginan anak-anaknya untuk memiliki setiap ponsel keluaran terbaru. Namun permasalahan yang timbul adalah secara tidak langsung para orangtua yang seperti ini mendidik anak mereka menjadi manusia yang konsumtif bukan produktif. Padahal kalau hanya untuk komunikasi yang lebih mudah antara orang tua dan anak-anaknya, hal itu dapat dilakukan dengan ponsel biasa yang bisa dipakai untuk membuat panggilan telepon dan olah pesan (SMS).
Kebiasaan konsumtif seperti ini akan menciptakan generasi baru yang tidak menghargai barang karena merasa mudah mendapatkannya, serta yang paling buruk adalah menjadi manusia yang sombong karena gengsinya untuk memiliki ponsel terbaru ini selalu dipenuhi oleh orangtua mereka. Jiwa sombong dan konsumtif yang telah tertanam sejak usia dini akan sangat sulit untuk dihilangkan. Efek dari kejadian ini pun akan merugikan bangsa di kemudian hari. Indonesia yang terkenal dengan masyarakat yang ramah dan saling peduli akan berubah menjadi manusia yang individualis, konsumtif, dan sombong.
Untuk mengatasi hal ini diperlukan peran yang besar sekali dari orangtua, guru, dan tentunya pemerintah. Namun peranan yang paling penting tentu saja ada pada orangtua. Orangtua harus bisa untuk tidak memanjakan anak mereka dengan tidak memberikan ponsel-ponsel canggih tersebut pada usia sekolah dasar. Saya pernah menonton salah satu serial televisi dari luar negeri yang mana digambarkan bahwa di keluarga mereka seorang anak baru boleh memiliki ponsel pada usianya yang ke 16 tahun karena telah dianggap bisa bertanggung jawab. Bahkan meskipun ia telah berusia 16 tahun namun belum bisa membuktikan kalau dirinya sudah cukup bertanggung jawab, orang tua mereka tetap tidak akan memberikan ponsel hingga anak itu bisa membuktikan tanggung jawabnya. Hal ini membuat seorang anak menjadi benar-benar bertanggung jawab dan sangat menghargai barang karena ia tidak mudah mendapatkannya.
Pemerintah sebaiknya mengeluarkan aturan tentang usia kepemilikan ponsel. Misalkan pada usia sekolah dasar hanya diperbolehkan memiliki ponsel sederhana yang cukup untuk membuat panggilan dan olah pesan (SMS), lalu untuk tingkat usia sekolah menengah dengan ketentuan yang lebih tinggi, dan begitu pula selanjutnya.
Peran guru adalah untuk mendukung aksi dari orangtua dan pemerintah mengenai ponsel yang telah disebutkan diatas. Guru membuat sanksi yang mendidik (tidak hanya menyita ponsel) jika seorang anak terbukti melanggar peraturan-peraturan itu.
Selain untuk sisi pendidikan, peranan kepemilikan ponsel ini juga sangat berperan dalam bidang keamanan. Tentunya dengan memiliki ponsel yang mahal, seorang anak akan menjadi sasaran empuk para penjahat yang mengincar ponsel mereka sehingga banyak anak-anak yang mengalami tindak kejahatan.
Kemajuan teknologi selular memang sangat membantu dalam kehidupan kita, namun teknologi tersebut sebaiknya dimanfaatkan berdasarkan pada kepentingan kita masing-masing. Bila kita tidak memerlukan aplikasi-aplikasi canggih yang mahal itu untuk dimanfaatkan oleh anak-anak kita yang masih pada usia sekolah dasar, bukan kah lebih baik jika kita mengajari mereka untuk menjadi manusia penderma dengan berbagi pada orang-orang yang membutuhkan? Selain akan membantu mereka bisa berkonsentrasi pada pelajaran sekolah dan tidak menjadi manusia yang konsumtif, namun ia juga akan menjadi manusia yang rendah hati dan suka berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan.
