Viaggio in Islanda

Quote Of The Day

There is no [UNDO] button in real life to let YOU turn back the time… There is no [U-TURN] in way of life to let YOU go back to where YOU have missed... ~ Rhea ~

Home Tiga Sekawan 3 Sekawan - Bagian 2 - Pussy Bertemu Baby
3 Sekawan - Bagian 2 - Pussy Bertemu Baby PDF Print E-mail
Written by Rheys   
Tuesday, 01 March 2011 12:20

 

Setelah ditinggal pergi oleh Bobo untuk selamanya, hidup Baby menjadi semakin sepi. Sehari-hari ia hanya duduk di atas pohon kelapa memandangi indahnya biru laut dengan ombak yang berbusa diiringi angin sepoi-sepoi. Baby berharap dapat berbagi keindahan itu bersama Bobo. Namun ia hanya bisa menikmatinya sendiri.

Hari-hari terus berlalu, dan Baby masih sendiri di pinggir pantai. Akhirnya Baby memutuskan untuk mencoba mengingat-ingat jalan kembali ke perkampungan kera. Berharap masih ada sanak saudara yang tersisa.

Perlahan dan hati-hati, Baby mulai menyusuri ke dalam hutan rimba. Meraba-raba jalan pulang ke perkampungan kera. Namun sesampainya disana, tak seekor kera pun ia temui. Hanya pepohonan yang sudah rusak berantakan saja yang tersisa. Baby semakin sedih dan bingung harus berbuat apa.

Jika Baby tetap tinggal di dalam hutan itu, ia akan bertambah sedih teringat akan semua kenangan manis bersama keluarga dan teman-temannya. Maka Baby memutuskan untuk kembali ke pinggir pantai dan memulai kehidupan baru disana.

Baby pun berlari, menghinggap dari satu pohon ke pohon lain, memetik buah cherry masak untuk bekalnya di pinggir pantai karena di pinggir pantai hanya tersedia pohon kelapa.

Perbekalan tersebut diselipkan di bagian samping bawah mulutnya yang memang berfungsi untuk menyimpan perbekalan makanan.

Setelah memiliki perbekalan yang cukup, Baby kembali meneruskan perjalanannya. Saat melewati air terjun, Baby terdiam sejenak. Memandangi pancaran air menawan yang dilintasi pelangi. Lalu Baby memutuskan untuk beristirahat sebentar di atas batu kali memandangi indahnya pancaran pelangi dari air terjun sambil menikmati beberapa buah Cherry yang telah di petiknya.

Tiba-tiba terdengar suara asing yang samar-samar. Baby merasa penasaran dan perlahan mengikuti arah sumber suara itu. Semakin lama suara itu semakin kencang. Suara itu terdengar seperti nada tangisan makhluk kecil. Baby terus mengikuti arah suara itu. Hingga mendekati jalan keluar ke pantai, ia menemukan seekor anak kucing berbulu putih dekil yang basah kuyup dengan badan gemetaran berjalan tanpa arah.

Baby perlahan mendekati anak kucing itu. Si anak kucing tidak menjauh saat didekati oleh Baby. Bahkan ia langsung menempelkan dirinya yang basah dan gemeteran kedinginan ke badan Baby yang lebih besar darinya dan berbulu tebal. Baby pun reflek memeluknya. Baby berusaha berbagi kehangatan tubuhnya dengan anak kucing malang itu.

Begitu nyamannya di pelukan Baby membuat si anak kucing tertidur lelap hingga Baby pun terlelap di atas tanah lembab sambil memeluk anak kucing kecil.

Sesaat kemudian, si anak kucing terbangun. Anak kucing itu menggerak-gerakkan dan menjilat-jilat Baby berusaha membangunkan Baby. Baby terbangun. Si anak kucing sudah berpose memandangi Baby dengan mata melas. Baby seperti bisa membaca arti pandangan mata si anak kucing. Tanpa kata-kata, Baby pun mengeluarkan beberapa buah  Cherry perbekalannya dan diberikan ke si anak kucing.

Baby tidak tahu kalau kucing tidak bisa memakan buah Cherry utuh. Buah Cherry yang Baby berikan hanya bisa diendus-endus dan dijilat-jilat bagian luarnya saja tetapi tidak bisa digigit. Lalu Baby berusaha membantu anak kucing itu dengan meremas buah itu sehingga si anak kucing bisa dengan mudah menghisap sarinya. Setelah melahap beberapa buah Cherry, si anak kucing terlihat lebih segar, dan Baby membawanya berjalan menuju pinggir pantai.

Sesampainya di pantai, Baby melihat benda kuning yang terdampar. Ternyata benda kuning itu adalah perahu karet darurat dari sebuah kapal pesiar besar yang namanya tertera pada salah satu bagian perahu kuning itu. Anak kucing pun langsung lari menghampiri perahu karet kuning itu dengan riang lalu mengelus-eluskan badannya dengan manja. Si anak kucing memberi tahu Baby kalau ia adalah salah satu penumpang kapal pesiar besar yang tenggelam. Ia terdampar di pulau dibawa oleh perahu karet kuning penyelamat itu.

Sejenak memandang-mandangi perahu karet kuning, Baby langsung mendapat ide brilian! Ia menarik perahu karet kuning yang sudah mulai mengempes ke tumpukan dahan-dahan yang Baby bangun sebagai tempat berlindungnya. Ia pun menyusun sedemikian rupa sehingga perahu karet itu bisa menjadi pelindung yang kokoh buat mereka berdua. Kini mereka tidak perlu khawatir lagi dengan hujan badai yang selalu datang di malam hari. Karena mereka tidak akan basah kedinginan lagi. Dan Baby sekarang tidak sendirian lagi, ia telah memiliki teman baru, si anak kucing putih dekil bernama Pussy.


 

 

Counting On...

Website Hit Counters
HTML Hit Counter

The Tweet