| Operasi Usus Buntu |
|
|
|
| Written by Rheys |
| Friday, 18 February 2011 10:38 |
|
Sebenarnya sudah cukup lama saya mau berbagi tentang pengalaman operasi usus buntu saya yang cukup unik tetapi baru punya waktu luang sekarang, maka saya akan menceritakan dengan lengkap salah satu pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya ini. Prosesnya berlangsung sangat cepat karena ternyata penyakit saya itu bersifat akut. Jadi datangnya mendadak tanpa tanda-tanda. Awalnya, pada tanggal 29 Desember 2010, saat bangun di pagi hari perut saya terasa sedikit perih. Namun rasa perih itu saya tahan karena saya pikir itu hanya sakit perut karena maag biasa. Karena kebetulan saat itu saya memang belum sarapan pagi dan terkadang maag saya memang suka kambuh. Salah satu kebiasaan buruk saya yaitu menahan rasa sakit, maka saya pun tidak memusingkan rasa sakit itu dan terus menjalankan hari-hari seperti biasa. Sesampainya di kantor, rasa perih itu semakin menjadi, bahkan termasuk kategori teramat sangat perih hingga saya pun tidak kuat untuk duduk. Saya pikir mungkin maag akut saya kambuh, jadi saya harus paksakan diri untuk makan. Entah mengapa sepertinya saya merasa tidak kuat untuk makan makanan berat, dan biasanya kalau sedang sakit maag, saya suka makan biskuit cabin dengan teh hangat. Maka saya menguatkan diri untuk turun ke bawah beli roti, biskuit cabin, dan membuat teh hangat. Ternyata makanan itu sama sekali tidak bisa masuk ke dalam perut saya. Setelah makan sedikit perut tambah terasa perih dan mual yang akhirnya jadi diare dan muntah-muntah. Pukul 4 sore saya putuskan untuk pulang ke rumah. Saya tidak kuat untuk menyetir sendiri jadi saya minta tolong salah satu teman saya untuk menyupiri saya pulang. Ternyata jalanan macet dan saya tidak sanggup lagi menahan rasa perih yang luar biasa itu. Akhirnya saya putuskan untuk mampir ke UGD RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta. Di ruang UGD, saya bilang kalau saya menderita maag akut (karena itu yang ada di pikiran saya). Lalu sang dokter jaga menyuntikkan cairan untuk menghilangkan rasa perih untuk maag akut. Ternyata setelah disuruh beristirahat sekitar 30 menit rasa perih itu tidak juga hilang, namun hanya berkurang sedikit. Tetapi karena saya malas untuk berlama-lama di Rumah Sakit, maka saya sanggupkan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ternyata rasa perih itu semakin menjadi-jadi. Ibu saya pun memberikan obat pernghilang sakit maag. Namun ibu saya curiga kalau saya menderita usus buntu, jadi beliau meminta saya untuk mengangkat kaki kanan dan merasakan rasa sakitnya. Namun karena sakit di perut saya terlalu perih luar biasa, sehingga saya tidak lagi bisa membedakan rasa sakit itu. Menjelang tengah malam badan saya baru mulai demam, dan saya mulai berfikir kalau ini bukan maag. Tetapi ada sesuatu infeksi yang tidak beres di dalam perut saya. Rasanya saya mau buka perut saya lalu mencabut sendiri penyebab rasa sakit itu. Karena saya demam, ibu saya pun memberikan obat penurun panas yang juga mengandung penghilang rasa sakit. Namun hampir setiap jam saya selalu terbangun karena perih perut yang tak tertahankan. Namun saat bangun di pagi hari, rasa perih itu sedikit berkurang. Saya yang tadinya sama sekali tidak bisa beranjak dari tempat tidur, sudah mulai bisa berdiri meskipun masih bungkuk, tidak bisa tegap. Pagi hari tanggal 30 Desember 2010, ibu saya menawarkan saya untuk memeriksakan ke rumah sakit lagi. Namun karena saya merasa sudah lebih segar, maka saya pikir rasa sakit yg sudah mulai berkurang itu akan segera hilang, jadi saya lebih memilih untuk beristirahat di rumah dari pada pergi ke rumah sakit dan tanpa memakan satu pun obat anti sakit untuk merasakan rasa sakitnya jika kambuh lagi. Ternyata mulai pukul 3 sore, rasa sakit itu kembali lagi dan lebih perih dari sebelumnya. Namun saya sempat merasakan perih yang berlebih jika saya mengangkat kaki kanan saya. Saya pun langsung googling tentang tanda-tanda usus buntu dan merasa sangat yakin kalau saya sedang menderita sakit usus buntu. Saya pun langsung menghubungi orang tua saya yang sedang di kantor masing-masing. Sayangnya mereka sedang meeting dan minta saya untuk bersabar dan menahan rasa sakit itu. Akhirnya rasa sakit itu saya bawa tidur meskipun tidak pernah bisa nyenyak. Sekitar pukul 1/2 8 malam, orang tua saya sudah sampai di rumah dan kami langsung bergegas ke rumah dokter bedah 'langganan' keluarga besar kami, dr. H. Memet, SpBd. Karena kami sudah sangat yakin penyakit ini usus buntu dan saya juga tidak akan kuat menunggu jika dibawa ke rumah sakit, maka kami langsung menghubungi dokter bersangkutan dan mendatangi rumahnya. Sesampainya di rumah beliau, melihat saya turun dari mobil tergopoh-gopoh, beliau pun langsung menghampiri saya untuk membantu memapah saya jalan masuk ke rumahnya. Sesampainya di dalam rumah, saya diminta untuk berbaring dan beliau langsung menekan-nekan perut saya menanyakan tentang rasa sakitnya. Lalu tiba-tiba beliau mengecek kebenaran akan kondisi saya melalui dubur saya dengan menyentuh langsung usus buntu saya yang rasanya amat sanga luaaaaaarrrrrrrr biasa sakiiittt sekali!!! Dengan pemeriksaan singkat tersebut telah diketahui dengan pasti kalau saya menderita usus buntu akut dan HARUS LANGSUNG DIOPERASI sesegera mungkin. Lalu sang nyonya dokter langsung menghubungi beberapa rumah sakit tempat dr. H. Memet, SpBd itu praktek yang ternyata banyak rumah sakit yang penuh. Tapi untungnya saya pun mendapat satu rumah sakit yang masiha da kamar kosong. Jadi malam itu juga saya langsung dibawa ke rumah sakit untuk opname dan dibuat perjanjian untuk bedah keesokan harinya tanggal 31 Desember 2010 pukul 8 pagi.
Malam Tahun Baru yang Tak Terlupakan, 31 Desember 2010Yup, saya menghabiskan penghujung tahun 2010 di meja operasi dan menghabiskan malam tahun baru di kamar rumah sakit dengan luka jahitan bekas operasi! Seperti biasa, saat kita baru masuk rumah sakit untuk opname dan tentunya pasti diinfus, maka kita akan disuntik tes alergi yang disuntikkan di antara permukaan kulit sehingga menyebabkan rasa sakit yang lumayan hebat. Gambar di bawah adalah gambar lubang-lubang suntikan di tangan saya untuk segala macam tes termasuk tes alergi dan tes darah.
Jadwal awal operasi adalah pukul 8 pagi, namun karena hal tertentu akhirnya jadwal operasi saya diundur pukul 9 pagi. Dokter anastesi datang menerangkan tentang bius dan saya minta bius total agar tidak melihat saat proses operasi berlangsung. Dalam pikiran saya, yang penting operasi ini cepat selesai dan rasa perih ini cepat hilang. Tepat pukul 9 pagi saya dibawa ke ruang OK. Saya masih sadar hingga saya berada di meja operasi. dengan posisi terlentang dan kedua tangan lurus ke samping. Saya melihat ke sekeliling saya untuk 'mengenal' ruang operasi. Hingga lampu operasi disorot, alat monitor jantung dipasang dan saya bisa mendengar detak jantung saya seperti di film-film, lalu salah satu orang yang ada di ruang operasi itu bilang, "Silahkan berdoa, operasi akan segera dimulai". Lalu saya merasa aliran cairan dingin ke dalam nadi di tangan saya dan............................ tiba2 dengan samar saya dengar ada yang bilang sudah selesai dan mereka mangangkut saya kembali ke kamar. Saat tiba di kamar, saya melihat dengan samar banyak saudara-saudara saya yang berkumpul, namun saya belum sadar penuh, saat sedikit tertidur saya ingat beberapa saudara saya itu pamitan pulang dan saya tertidur lelap lagi... Saat itu hari Jumat tanggal 31 Desember 2010 pukul 2 siang.... Sekitar pukul 1/2 8 malam saya terbangun lagi dan sepertinya mulai benar2 siuman. Saya melihat infus saya terpasang 2 selang yang terhubung dengan sebuah benda kotak di samping kanan saya yang ternyata cairan penghilang rasa sakit. Ternyata itu yang menyebabkan saya sama sekali tidak merasakan sakit pada luka jahitan operasi.
Ternyata kata dokter usus buntu saya SUDAH BUSUK DAN HAMPIR PECAH!!! Untungnya saya masih dikasih kesempatan untuk hidup lebih lama. Karena jika usus buntu itu sampai pecah, tentunya saya sudah tidak bisa update tulisan ini lagi karena jasad saya sudah dikubur dan arwah saya semoga saja ditempat yang baik dan tenang. Selain itu juga ternyata ukuran usus buntu saya panjaaaaaang sekaliiiii. Hahhahaa. Mungkin 2 kali lipat dari usus buntu pada umumnya! Hahaha. Dokternya saja sampe bingung badan setipis saya bisa punya usus sepanjang itu! Tahun Baru yang Tak Terlupakan, 1-2 Januari 2011Sebenarnya saya punya trauma dengan operasi usus buntu ini karena saat saya kecil ibu saya juga pernah dioperasi usus buntu dan ternyata bekas lukanya mengalami abses. Saat pembersihan luka abses itu saya melihat ibu saya begitu kesakitan karena lukanya dibuka lagi dan dibersihkan nanahnya. Saya sangat takut sekali, dan saya sangat berharap hal itu tidak terjadi pada saya. Saya sangat tidak dimanja tentang penyakit ini. Tanggal 1 Januari 2011, saya menyambut tahun baru dengan penuh penderitaan untuk belajar dudu dan berdiri. Sakitnya bukan main tetapi saya harus bisa melawan rasa sakit itu agar bisa segera pulang ke rumah. Ternyata usaha saya membuahkan hasil dan tanggal 2 Januari 2011 saya sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan kembali check-up tanggal 10 Januari 2011. Sebelum pulang, perban luka diganti dulu.
Mimpi Buruk Menjadi KenyataanEntah kenapa saya selalu merasa apa yang sangat saya takuti meskipun sekecil apa pun kemungkinan itu pasti akan terjadi pada saya! Selang 5 hari di rumah saya merasa ada yang aneh dengan luka saya. Lukanya semakin membengkak dan terasa sakit. Kebetulan ada teman saya yang habis operasi juga, setelah saya tanya ke teman saya, ternyata dia tidak mengalami hal yang sama. Lalu saya langsung terikngat akan trauma saya tentang abses luka operasi ibu saya. Mudah-mudahan saya tidak mengalami hal yang sama! Malam harinya saya langsung ke rumah sakit tempat dokter bedah saya praktek untuk mengecek luka saya itu. Ternyata mimpi buruk saya benar-benar menjadi nyata!!! Luka operasi saya mengalami ABSES!!! Betul sekali, TANPA DIBIUS jahitannya digunting dan lukanya 'diobok' untuk mengeluarkan dan membersihkan nanah-nanah yang ada di luka. Setelah bersih lalu diperban kembali.
Saya diminta kembali check-up 3 hari kemudian (10 Januari 2011). Namun selama 3 hari itu saya harus membuka perban dan mengompres luka dengan cairan Metronidazole dan mengganti perban sehari 3 kali.
Selama dikompres cairan itu, lukanya akan terbuka dan darah akan terus mengalir untuk mengeluarkan kotoran-kotoran (nanah) yang masih tersisa di dalam. Berikut perkembangan kondisi lukanya:
Sebagai orang awam tentunya gambar luka tanggal 10 Januari 2011 itu justru lebih mengerikan dari sebelum-sebelumnya. Tetapi justru itu maksud dari semua ini. Pelastik putih yang ditancapkan ke dalam luka itu merupakan saluran yang dibentuk untuk mengaliri darah dari dalam. Setelah check-up ternyata haslinya bagus!! Nanah di dalam benar-benar sudah bersih dan bisa ditutup perban biasa selama 1 minggu lalu check-up lagi. Setelah 1 minggu kemudian kembali check-up, dokternya bilang, "Kalau ternyata lukanya belum tertutup berarti harus dijahit lagi". Waduh! Sepertinya saya benar2 trauma mendengar kata "JAHIT", saya langsung panik duluan dan memastikan kalau akan dibius dan tidak merasakan sakit yang luar biasa lagi seperti saat membersihkan abses. Tetapi ternyata, alhamdulillah LUKANYA SUDAH TERTUTUP SENDIRI!!! Alhamdulillah banget! Jadi hanya ditambahkan bubuk antiseptik dan diperban sangat rapat selama 1 minggu lagi daaaaaannnnnnn.... perban siap dibuka!!! Karena pada akhirnya operasi usus buntu saya tidak dibarengi dengan jahitan, maka bekas lukanya pun berbeda. Tidak ada bekas luka jahitan, tetapi hanya ada garis tipis seperti bekas luka terkena pisau yang semakin lama akan semakin tipis dan samar. Berikut kondisi luka saat ini setelah 1 bulan operasi (18 Februari 2011):
|












