Viaggio in Islanda

Quote Of The Day

“Rivers know this: there is no hurry. We shall get there some day.” ~Winnie The Pooh~

DIA PDF Print E-mail
Written by Rheys   

“DIA”

Aku menatap halaman kosong pada laptopku yang baru saja aku buka untuk menulis sesuatu yang baru. Aku sedang ingin mennulis. Ingin sekali. Namun begitu banyak yang ingin kutulis sehingga aku pun menjadi bingung untuk memulainya. Ya, tanpa kata pertama tulisan itu tidak akan pernah tertulis namun dengan kata pertama tulisan itu akan terus mengalir lepas bak sungai yang deras dengan sedikit percik air pada bebatuan namun tetap pada satu tujuan.

Menghela nafas setelah aku menyelesaikan paragraf pertama yang jika dibaca orang lain tentu masih belum dapat menangkap apa yang sedang ingin kutulis. Tetapi hati kecilku, jangan kan hati kecilku, hati besarku sekalipun sudah tahu pasti apa yang ingin kutulis. Aku ingin menulis tentang, “DIA”.

“DIA” siapa? Apakah “DIA” merupakan bentuk penunjuk orang ketiga atau merupakan sebuah nama? Siapa “DIA”? Apa itu “DIA”?

“DIA”, kusebutnya. “DIA” begitu umum namun menjadi spesifik karena kutulis “DIA” dengan huruf kapital. “DIA” adalah sebutan yang kutujukan kepada sesuatu yang istimewa untukku. Tepatnya bukan sesuatu, tapi seseorang. Seseorang yang telah menyelinap masuk ke dalam hatiku dan bersarang disitu. “DIA” telah berakar dalam dan kuat hingga tak bisa kutanggalkan meskipun besar doronganku untuk menanggalkan “DIA” karena “DIA” berbahaya. “DIA” berbahaya untuk aku dan hatiku karena “DIA” telah membuatku jatuh cinta.

Tak ingin aku dibuat jatuh cinta oleh “DIA”. Takut aku akan cinta. Takut! Aku tak mau jatuh cinta, aku tak ingin ada “DIA”. Tak ingin ku hancur ketika cinta dibuat kecewa.

“DIA” tahu jika “DIA” tak bisa menjadi milikku. Setidaknya untuk saat ini dan saat-saat yang masih dapat kita bayangkan, “DIA” tak mungkin akan pernah mejadi milikku. Kecuali memang keajaiban itu ada, membuat yang tak mungkin menjadi mungkin. Namun, meskipun “DIA” bisa menjadi milikku, aku tetap takut. Aku takut hanya bisa memiliki badannya, bukan hatinya. Lebih baik seperti ini meskipun aku tidak bisa memiliki badannya tetapi aku memiliki hatinya. Terlihat begitu yakin kah aku telah memiliki hatinya? Ya, aku setuju jika aku terlihat begitu yakin. Paling tidak itu yang telah “DIA” yakinkan padaku.

Saat aku merasa takut kehilangan perhatian dia, aku sadar telah benar-benar jatuh cinta padanya. Saat aku merasa berat jauh darinya, aku tahu jika selalu merindukannya. Saat aku merasa terancam kehilangan hatinya, aku mengerti jika “DIA” telah berakar kuat merangkul hatiku. Melepaskannya sama dengan melepaskan hatiku. Pasti perih dan hilang satu organ terpenting tubuhku. Kini aku dalam bahaya besar karena aku telah terpuruk cinta.

Sejak awal, aku tahu ini tidak benar. Ini salah! Ini terlarang! Namun jiwa petualangku meyakinkan aku tak akan tersakiti jika “DIA” menyakitkan aku dan tak akan kehilangan jika “DIA” meninggalkanku. Sakit hati yang dahulu mencabik hancur hatiku, kupikir telah habis membekukan hatiku yang telah melebur menjadi ampas abu terpencar melayang hanyut tertelan waktu. Tanpa hati tentu tak aka nada rasa sakit atau pun rasa bahagia karena cinta. Akan tetapi, “DIA” berhasil mengumpulkan abu hatiku yang dulu telah terurai jauh tercerai berai menjadi satu tersimpan rapi dalam pelukan hangat dan nyaman. Kehangatan dan kenyamanan yang perlahan mencairkan kerasnya batu es yang telah membekukan isinya.

“DIA” begitu indah. Aku mengagumi setiap inci pada tubuh dan hatinya. Menatap “DIA” kedalam membuatku semakin ingin memeluknya erat dan memberikan kehangatan dan cinta yang terkuak kembali ditemukan masih utuh dalam hatiku. Aku mencintainya. Begitu mencintainya sehingga cinta ini kadang menyiksaku karena ketidakmampuan aku untuk memiliki “DIA” seutuhnya. Namun aku tak peduli betapa mengerikannya jatuh cinta pada “DIA” saat suatu hari nanti aku harus kehilangannya. Setidaknya rasa indah itu pernah ada dan akan menjadi bagian dari hidupku.

 

 

Counting On...

Website Hit Counters
HTML Hit Counter

The Tweet